Anak tenggelam di lubang tambang batu bara, Tindakan tegas KLHK dipertanyakan!

Sejumlah Aktivis JATAM membentangkan Spanduk di depan lobi Gedung Manggalawanabakti/Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Senin/07/09/2015

Sejumlah Aktivis JATAM membentangkan Spanduk di depan lobi Gedung Manggalawanabakti/Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Senin/07/09/2015
Sejumlah Aktivis JATAM membentangkan Spanduk di depan lobi Gedung Manggalawanabakti/Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Senin/07/09/2015

Sejumlah aktivis dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) melakukan aksi protes di depan gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Aksi protes ini terkait dengan tewasnya sebelas anak yang tenggelam di lubang bekas tambang batubara di Samarinda, Kalimantan Timur. Aksi damai ini dilakukan dengan membentangkan spanduk yang bertuliskan “Sudah 11 Anak Tewas, Ibu Mau Berapa Lagi?”. Selain itu peserta aksi juga menaburkan bunga di atas nisan sebagai simbol untuk menghadirkan kedukaan yang selama ini dialami oleh keluarga korban.

JATAM menilai hingga saat ini belum ada tindakan tegas dari Pemerintah, khususnya Kementerian LHK, untuk menutup dan menghukum perusahaan-perusahaan tambang yang menyebabkan tewasnya sebelas anak tersebut. Bahkan dengan tegas JATAM menyatakan Pemerintah telah abai dalam mengurusi keselamatan rakyatnya.

Sebagaimana disampaikan sebelumnya, pada 24 Agustus 2015 Muhamad Yusuf Subhan (11 Tahun), pelajar di Pondok Pesanteran di Yayasan Tursina, Samarinda, meregang nyawa di lubang tambang wilayah konsesi PT. Lana Harita Indonesia. Muhammad Yusuf Subhan adalah bocah kesebelas yang tewas akibat tenggelam di dalam lubang tambang Samarinda dalam kurun empat tahun terakhir. Kesebalas bocah tersebut tenggelam di lubang bekas tambang batubara yang ditinggallkan begitu saja oleh perusahaan tanpa direklamasi. Continue reading

Lubang tambang Batu bara, kembali merengkut nyawa !

Kolam Bekas Tambang Batu bara

peta photo lubang tmbang

Doc. JATAM-Kaltim
Doc. JATAM-Kaltim

JATAM : Yusuf, Bocah Korban ke 11 dari Dampak Kegiatan Pertambangan Batubara Samarinda Positif berada di dalam Kawasan Konsesi Milik PT Lana Harita Indonesia (LHI)

Samarinda, 28 Agustus 2015  Muhammad Yusuf Subhan (11 tahun), santri yang belum sebulan belajar di Pesantren Yayasan Tursina, Pampang, Samarinda ini ditemukan Tewas 24 Agustus 2015 yang juga merupakan bagian dari konsesi Tambang, PT Lana Harita Indonesia. Kematian yusuf menambah daftar korban anak-anak tewas akibat kerusakan lingkungan dan kegiatan pertambangan batubara samarinda sepanjang 2011-2015. Continue reading

Hore.., Terminal Benih buka Stand di Festival Parara !


Tanaman Organik sudah tak aneh dan terdengar sudah lumrah di kalangan masyarakat kita, namun sebagian masyarakat petani pada umumnya masih enggan untuk memakai cara tersebut, dan mereka tergantung dengan produk pabrik mulai dari pestisida dan pupuk kimia.
Warga Kota Jakarta, juga ada yang gemar menanam, baik Sayur-sayuran dan tanaman palawija,selain untuk di konsumsi sendiri ternyata bisa menghasilkan Uang. Doc. by Admin

Jakarta-06/05/2015 Sejak awal  pertengahan bulan Februari lalu, Terminal Benih (TB) terbentuk berkat ide dan gagasan kreatife masyarakat kota yang sadar akan pentingnya memproduksi sumber pangan keluarga dari lahan yang sangat terbatas.

Dapat kita bayangkan hampir 99% bahan pangan seperti sayur,Beras dll didatangkan dari berbagai wilayah bahkan, pemerintah melakukan impor produk tersebut dari Negara lain. Padahal, Negeri ini terkenal dengan kesuburan tanahnya tetapi sebagian masyarakat juga enggan untuk bercocoktanam/bertani.

Terminal Benih mungkin akan terus berkembang sejalan dengan watu, karena selain mempromosikan dan mengajak masyarakat kota untuk  bertani, Terminal Benih (TB)  juga melakukan identifikasi berbagai benih lokal, dan yang sifatnya hibrida untuk sementara ditinggalkan. Benih hibrida merupakan benih hasil rekayasa genetic agar tanaman tumbuh kembang sangat cepat, sementara benih lokal memiliki sifat sesuai aslinya juga memiliki ketahanan dari serangan hama. Continue reading