JATAM, Apresiasi BPK terkait Audit Tambang Batu bara


Jatam, Apresiasi Kerja-Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait Audit Tambang Batubara 2010-2011
Jatam, Apresiasi Kerja-Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait Audit Tambang Batubara 2010-2011

Setiap Jiwa Kehilangan Setengah Hektar Karena Tambang

Jakarta- Jaringan Advokasi Tambang mengapresiasi hasil Audit BPK pada tambang batu bara di Kalimantan (2010 dan 2011). Dari 247 perusahaan pemegang IUP batubara di Kaltim dan Kalsel, terdapat 64 perusahaan tidak membuat rencana reklamasi pasca tambang dan 73 perusahaan tidak setor dana jaminan reklamasi sebagaimana yang dilansir (Sindo 20/9).  

Bagi Jatam, proses audit ini cukup maju, namun belum merepresentasikan seluruh pemburukan kehidupan dan keselamatan penduduk pulau Kalimantan. Hasil Monitoring dan Investigasi JATAM hingga tahun 2013 menemukan beberapa fakta. Saat ini total penguasaan lahan tambang di Kalimantan Timur saja berkisar kurang lebih 7 juta hektar yang terdiri dari: 1.451 IUP dengan luas 5,314,294.69 hektar, 67 PKP2B menguasai lahan 1.624316,49 hektar, 5 KK luas konsesi 29.201.34 hektar.

Sementara itu, jumlah penduduk Kaltim sebanyak 3.908.737 jiwa. Jadi, penguasaan lahan tambang itu jika diporsentasekan berdasarkan Undang-undang No 5 Pokok Agraria tahun 1960 tentang hak kepemilikan atas tanah, seluas 2 hektar bagi tiap warga negara. Maka, rasionya setiap jiwa warga Kaltim kehilangan setengah hektar cadangan pemukiman dan usaha-usaha tani.

Selain itu, tingkat keselamatan rakyat jauh dari aman. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tercatat, sejak 2009 hingga 2012 tercatat 1.374 kejadian. Total kerugian mencapai 169 miliar rupiah dengan korban meninggal 143 orang. Jika dirata-ratakan pada periode tersebut, terjadi 343 bencana per tahun. Sedangkan pada tahun  2013, terjadi sebanyak 23 kali banjir yang memaksa 785.635 jiwa mengungsi.

Olek karena itu, JATAM menyimpulkan, jika logika produksi yang kapitalistik terus dipelihara, krisis ekologi dan pemburukan tingkat kehidupan masyarakat antar pulau akan berlangsung semakin cepat. Hal itu berpangkal dari komodifikasi alam tanpa melalui perencanaan secara sosial sesuai kebutuhan berdasarkan pertimbangan daya dukung ruang dan lingkungan.

Para pemilik korporasi tambang hanya peduli pada laba dan pembesaran nilai kekayaan atas nama kebutuhan pasar global. Praktek ekonomi yang ‘keji’ seperti ini sudah berlangsung hampir dua generasi, terutama Kalimantan Timur sebagai situs produksi komoditi batubara. Persediaan ‘bekal hidup’ warga dihancurkan sementara reklamasi pasca tambang tidak memiliki kepastian.

Jakarta, 22 September 2013

JATAM

 

Kontak: Andika (Manager Penggalangan Dukungan) JATAM

 

Email: redkuntani@gmail.com

 

Hp: 085397443141

 

Manager Penggalangan Dukungan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s