Rio Tinto, Lepas tanggung jawab atas hak warga


Jakarta, 11 Oktober 2013), Lembaga Kesejahteraan Masyarakat Tambang dan Lingkungan (LKMTL) Kutai Barat dan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), mendesak Pemerintah Indonesia untuk menunda dan tidak tergesa-gesa menandatangani nota penutupan tambang PT Kelian Equatorial Mining (KEM) milik Rio Tinto. Nota tersebut  akan  memindahkan beban  tanggung jawab ke negara terkait mengurus 77 juta ton tailing di dam Namuk, pelanggaran HAM  dan konflik sosial  yang belum juga dipulihkan.

PT KEM adalah milik Rio Tinto perusahaan tambang asal Inggris  yang beroperasi sejak 1992. Pertambangan ini juga  menghasilkan 14 ton emas tiap tahunnya hingga mereka mengumumkan penutupan pada 2004 yang lalu. Saat pertambagan ini beroperasi hingga mereka menginformasikan  penutupan produksi tambang pada 2003, terjadi rentetan kasus pelanggaran HAM, mulai perampasan tanah masyarakat adat dayak, kekerasan hingga kejahatan seksual terhadap perempuan.

Rio Tinto adalah Perusahaan tambang Mineral dan Batubara terbesar didunia, mereka juga mempekerjakan 71 ribu orang karyawan yang tersebar di 40 Negara dan 6 benua, dimana perusahaan milik Rio Tinto berada di  Indonesia ini, mereka juga memiliki separuh saham perusahaan tambang emas PT Freeport yang ada di Grasberg papua.

Sayangnya pemerintah memperlakukan penutupan Tambang emas KEM-Rio Tinto di Kutai Barat ini  secara diam-diam seolah  tak meninggalkan warisan masalah. Salah satu masalah tersebut bernama Tutung.

Tutung sendiri adalah wilayah di Kutai Barat yang dipilih karena merupakan monumen kegagalan proyek penutupan tambang PT KEM, desa yang dihuni mayoritas oleh warga Dayak Tutung Kutai Barat ini kehilangan 80 persen pendapatan yang biasa mereka lakukan.

Setelah  tahun 1990-an mengalami lonjakan yang begitu pesat oleh pendatang akibat operasi tambang itu . Kini desa yang dulunya ramai   bak kota hantu yang ditinggalkan oleh penduduknya ujar Pius Nyompe pimpinan, organisasi warga LKMTL.

Bahkan, hingga kini warga hanya menikmati listrik selama 12 jam  setiap hari, sumber air bersih terancam hilang, dua dam berisi kurang lebih 77 juta ton limbah tailing, diantarannya Dam Nakan dan namuk yang berada di hulu Sungai Kelian.Keberadaanya juga  menjadi bom waktu sendiri bagi DAS Mahakam dan warga kutai barat pungkas Pius.

Pemberian ganti rugi atas 20-an perempuan yang telah menjadi korban kejahatan seksual para petinggi perusahaan KEM masih meninggalkan persoalan, Natasha Rireq, salah seorang korban dan ibu dari seorang anak yang kini sudah menginjak usia belasan tahun “Tapi saya menerima ganti rugi karena ditekan, Saya merasa takut,” ujarnya.

Sejak 2004, PT KEM/ Rio Tinto memasuki tahap penutupan tambang dengan membuat sejumlah rencana, program dan komitmen yang ditanda tangani  berbagai pihak, termasuk perwakilan masyarakat, LKMTL dan tertuang secara resmi dalam sebuah komunike komite pengarah pengakhiran tambang di tahun 2003.

LKMTL dan Warga Kutai Barat menemukan sejumlah kejanggalan dalam pelaksanaan komunike pengakhiran tambang tersebut, diantaranya :

Sampai saat ini perubahan status pinjam pakai menjadi hutan lindung seluas 6750 Hektar masih tidak jelas. Tidak ada pelibatan masyarakat dalam proses perubahan status kawasan. Padahal implikasi perubahan status ini akan berimplikasi pada kehidupan masyarakat.

Dana abadi tertuang dalam Komunike KPPT No 5 27 Februari – 1 Maret 2002. Namun 11,2 juta USD yang dikelola PT Hutan Lindung Kelian Lestari (HLKL) sampai saat ini tidak transparan dan tanpa pelibatan masyarakat.

Dam Nakan dan Dam Namuk seluas 455 ha di ketinggian 425 meter di atas permukaan laut, 2 dam berisi 77 Juta Ton tailing ini jelas menjadi teror bagi 31 desa dan 4 kecamatan yang berada dibawah dan berhubungan dengan DAS Kelian dan DAS Mahakam, perlu “evaluasi total” sebelum 2 DAM ini diserahkan pada pemerintah Indonesia.

Pemerintah Indonesia harus turun tangan dan memberi perhatian serius atas pengakhiran Tambang PT KEM di Kutai Barat ini, sebelum PT KEM Mengambil keuntungan karena berkoar sebagai Proyek penutupan tambang terbaik dan memuluskan jalan mereka mendapatkan dukungan dari Bank Dunia.

Warga, LKMTL dan JATAM berencana akan menyebarkaninformasi terkait kasus ini ke internasional agar mendapa dukungan publik luas serta menyampaikan secara resmi Somasi tersebut pada hari Jum’at, Tgl 11 Oktober 2013, serentak di tiga daerah. Penyampaian Somasi dan mengadakan Konferensi pers di sekretariat nasional JATAM di Jakarta, serta di Sekretariat JATAM Kaltim di Samarinda dan kegiatan serupa dirangkai dengan Aksi Warga Korban PT KEM di Desa Tutung, Kabupaten Kutai Barat. sumber http://www.jatam.org, (editing Sj)

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “Rio Tinto, Lepas tanggung jawab atas hak warga

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s