Industri,Paling buruk di Dunia!


Jakarta-(24/11/13) JATAM dan LKMTL mendesak Pemerintah Indonesia untuk menunda dan tidak tergesa-gesa menandatangani nota penutupan tambang dan serah terima Kawasan Pinjam Pakai seluas 6.750 hektar dari PT Kelian Equatorial Mining (KEM) milik PT Rio Tinto. Nota tersebut akan memindahkan beban tanggung jawab mengurus 77 juta ton tailing di dam Namuk, pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan serta social yang juga belum dipulihkan dari PT KEM/Rio Tinto ke Pemerintah Indonesia. PT KEM adalah milik Rio Tinto yang merupakan Perusahaan mineral terbesar di dunia asal Inggris, yang beroperasi sejak tahun 1992 hingga 2004. Pertambangan ini sudah menghasilkan 14 ton emas serta 13 ton perak setiap tahunnya. Sejak mulai eksplorasi terjadi rentetan berbagai kasus mulai dari pelanggaran HAM,perampasan tanah masyarakat adat dayak, menggusur pertambangan rakyat ,hingga kekerasan dan kejahatan seksual terhadap kaum perempuan. Kematian Edword Tarung di Tahaan Polres Kutai Kartanegara juga menjadi saah satu bukti.

Masalah serius yang ditinggalkan oleh Rio Tinto, Pertama, dua dam berisi 80 juta ton limbah beracun (tailing) kedua dam tersebut yakni dam Nakan dan Namuk, berada di hulu Sungai Kelian dan Sungai Nyuatan yang mengalir hingga Sungai Mahakam. Hal tersebut merupakan bom waktu yang akan meneror Mahakam dan warga Kutai Barat.

Kedua, kasus kejahatan seksual terhadap puluhan kaum perempuan di Kelian juga dilakukan oleh karyawan PT KEM sampai hari ini tidak jelas nasibnya. Kasus itu seolah dicuci lewat pemberian uang pengganti ‘malu’, tidak menggoreskan nota predikat kejahatan Rio Tinto merupakan pemilik 80 persen saham PT KEM . bahkan salah satu pelakunya, Ismail Thomas, kini menjabat sebagai Bupati Kutai Barat.

Ketiga, jaringan listrik yang dijanjikan juga tidak kunjung terealisasi, bahkan di Kampung Tutung dan Kelian Dalam masyarakatnya hanya mengandalkan Genset, ditambah lagi ekonomi masyarakat yang tidak menentu memaksa mereka masuk ke kawasan bekas tambang PT KEM untuk mendulang emas secara tradesional. Inilah yang memicu bentrok antara masyarakat dengan aparat keamanan, yang berujung dengan penembakan salah satu warga pada tahun 2008 silam.

Keempat, pengelolaan dana abadi sebesar USD 11,2 juta seperti yang tertuang dalam komunike KPPT No. 5 27 Fembruari-1 Maret 2002, sama sekali tidak transparan. Dana abadi yang tersimpan di bank HSBC Singapura tersebut bunganya dikelola oleh PT Hutan Lindung Kelian Lestari (HLKL), sebuah badan hokum bentukan PT KEM untuk melaksanakan reklamasi dan reboisasi kawasan pinjam pakai tersebut.

Oleh karena itu JATAM dan LKMTL dengan tegas menuntut pekada Pemerintah Indonesia untuk menunda penandatanganan dan serah terima kawasan pinjam pakai hingga PT KEM menyelesaikan semua tanggung jawabnya serta memulihkan hak masyarakat di Lingkar tambang.

Melalui jumpa pers JATAM dan LKMTL menyampaikan hingga saat ini Rio Tinto masih tetap leluasa membuka dan merencanakan lokasi-lokasi tambang baru di Indonesia dengan berbagai macam wajah. Pada tanggal 13 Desember 2012 lalu Menteri ESDM Jero Wacik menandatangani Kepmen No 3323 K/30/MEm 2012 tentang penciutap Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi PT Sulawesi Cahaya Mineral yang semula seluas 50.700 hektar (luas wilayah semula) dikurangi 6.633 hektar hingga menjadi 44.067 hektar.lokasi tambang tersebut berada di dua Kabupaten dan Provinsi, yakni Morowali Sulawesi Tengah dan Konawe Utara Sulawesi Tenggara. Andika Manager Kampanye JATAM mengatakan,”Sudah sepatutnya Rio Tinto dihukum sebagai perusahaan paling berbahaya di dunia, atas kejahatam mereka di masa lalu, agar tidak leluasa menciptakan ketidakadilan di bumi Sulawasi tandasnya. (***)

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s