Krisis Energi Listrik, masih dirasakan oleh Masyarakat Indonesia!


Gambar: Ilustrasi http://tangbar.wordpress.com/tag/lampu-listrik/
Gambar: Ilustrasi
http://tangbar.wordpress.com

Jakarta,8/5/2014. Setiap tahun setidaknya hampir di seluruh wilayah Indonesia, terus mengalami kekurangan pasokan energi listrik salahsatu penyebabnya adalah,turunnya debit air di pembangkit listrik juga karena faktor lambatnya pengembangan pembangkit itu sendiri.

 Kemarau juga salah satu penyebab utama menyusutnya Bendungan yang ada di Indonesia akibatnya sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) tidak dapat beroperasi secara maksimal, sehingga menyebabkan krisis listrik dimana-mana.

Seperti yang terjadi di Semarang Jawa Tengah pada awal September 2013 yang lalu, terjadi pemadaman mendadak adanya gangguan gardu induk Unggaran akibatnya, sekitar 4,5 juta pelanggan  atau separuh dari pelanggan di seluruh wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta terganggu. Pemadaman juga berpotensi mengganggu jaringan  interkoneksi antara Jawa-Bali.

Sementara untuk wilayah Sumatera pemadaman bergilir sudah biasa dialami oleh warga. Bahkan, setiap orang mengibaratkannya pemadaman listrik itu seperti dosis minum obat,dua hingga 3 kali dalam  sehari. Persoalan pasokan listrik ke sejumlah daerah memang menjadi permasalahan klasik yang harus dihadapi oleh konsumen, selain kerugian yang harus ditanggung mereka juga tidak mendapat informasi adanya pemadaman bergilir tersebut. PLN menyiapkan genset

Empat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang ada saat ini terganggu operasionalnya karena selain debit air bendungan menyusut juga karena adanya kerusakan  system kelistrikan, diantaranya PLTA  Singkarak, PLTA Maninjau, PLTA Kotopanjang dan PLTA Batang Agam. Akibatnya suplai listrik ke pelanggan berkurang, sehingga terjadi pemadaman bergilir.

Selama perbaikan pembangkit pihak PLN menyewa generator secara bertahab dengan total kapasitas mencapai 430 megawatt (MW). Tetapi upaya tersebut nampaknya masih belum bisa untuk memenuhi  kebutuhan energi lstrik itu sendiri. Pasalnya, untuk  kebutuhan listrik di wilayah yang konon disebut-sebut sebagai lumbung energi melimpah ruwah itu, membutuhkan daya listrik    kurang lebih mencapai 1.600 megawatt (MW) sementara pasokan listrik yang tersedia saat ini baru mencapai 1.500 megawatt (MW).

Untuk pembangunan sejumlah  Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang tadinya ditargetkan akan rampung pada pertengahan 2013 yang lalu ternyata juga lamban dalam pengerjaannya selain terkendala pembebasan lahan  dan lain-lain, seperti PLTU. Nagan Raya 1 (110 MW  selesai Oktober 2013), PLTU Nagan Raya 2 (110 WM selesai Februari 2014), PLTU Pangkalan Susu 1 (200 MW selesai Maret 2014), PLTU Pangkalan Susu 2 (200 MW selesia Mei 2014), dan PLTMG Arun (180 MW selesai Desember 2014)

Pemerintah tidak serius melakukan pemenuhan kebutuhan energy listrik nasional,.Contoh nyata adalah pengadaan daya listrik 10.000 megawatt (MW) tahap pertama yang dicanagkan pada tahan 2006 lalu dan ditergetkan selesai pada tahun 2010. Namun  hingga akhir 2013 ini, kemungkinan baru dapat-diselesaikan sekitar 80 persen saja, karena pemerintah mengulur masa tenggatnya hingga 2014. Sedangkan untuk Pemenuhan proyek daya listrik 10.000 megawatt (MW) tahap dua selesai pada 2020.

Belum terpenuhinya kebutuhan energy listrik nasional, pemerintah berencana melakukan ekspor  daya listrik ke Malaysia,pada tahun 2016 mendatang. Yang patut dipertanyaan adalah, apakah konsumen listrik nasional akan terus mengalami “byar pet” ? lantas sampai kapan batas kecenderungan krisis energy listrik ini akan berakhir?. (Saj)

 

 

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s