Pasca: Debat Capres “Ketahanan Pangan,Energi & Lingkungan”


Dari hasil debat Calon Presiden  – Wakil Presiden (Capres – Cawapres), 5 Juli 2014, tentang Lingkungan, Energi dan Pangan, secara umum persis dengan Visi, Misi dan program/agenda kedua pasangan dan masih sama dengan kondisi 10 tahun terakhir. Kesalahan model pembangunan saat ini, memang disampaikan oleh salah satu pasangan, akibat target mengejar pertumbuhan ekonomi dan kepentingan para pihak, sehingga abai terhadap lingkungan. Disayangkan pilihan terdepan industrinya masih sama, berbasis lahan, ekstraktif dan bahan bakar fosil.

Bahwa ada upaya mendorong energi terbarukan, tapi tidak ditempatkan sebagai sumber energi utama. Diversifikasi yang dimaksud kedua pasangan, basisnya masih energy fosil. Kedua pasangan terkesan tidak ingin ada strategi Zero fossil fuel, untuk jangka panjang. Masih menyakini  ketersedian Gas terutama energi kotor Batubara, sebagai pilihan tepat. Sementara, Batubara diakui sebagai sumber energi yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Padahal, akibat dari pemanasan global atau perubahan iklim, memberikan efek kepada petani atau nelayan dalam produktivitas-nya.

Dan sangat disayangkan sekali, kedua pasangan terkesan cari aman untuk penegakan atau penindakan terhadap pelaku kerusakan lingkungan paling besar. Sebaliknya, salah satu pasangan menuding rakyat sebagai terdepan merusak hutan. Melakukan perambahan, illegal logging atau penambangan liar -penambang liar selalu dikonotasikan tambang rakyat -. Padahal pemilik HTI, HPH, perkebunan dan pertambangan yang selama ini, lebih banyak mengalih fungsikan hutan kawasan dan lahan pertanian rakyat adalah perusahaan, baik perusahaan negara, swasta nasional maupun asing.

Misalnya pada kasus Lapindo, Newmont, Nusa Lontar, kasus 8 anak meninggal di Kalimantan Timur di lobang-lobang tambang atau kasus-kasus perkebunan sawit di Sumatera Selatan dan Riau, pelaku pembakaran hutan dan sebagainya.

Dalam catatan kritik JATAM terhadap Visi, Misi dan Program/Agenda kedua pasangan, pada 4 Juli 2014, Masih melanjutkan krisis, terbukti dalam debat 5 Juli 2014 lalu, tidak banyak memberikan perubahan untuk mengatasi krisis lingkungan dan energi hingga hari ini masih bergantung kepada energi fossil. Diversifikasi BBM ke Gas, tidaklah punya masalah dalam ketersediaanya. Gas yang konon potensinya masih ada sekitar 50 tahunan, buktinya tak mampu memenuhi +25.000 metrik ton per hari kebutuhan LPG nasional, sekitar 19.000 – 20.000 metrik ton harus impor, untuk menutup kekurangan.

“Energi, pangan,dan  lingkungan memiliki keterikatan tak bisa diurus terpisah-pisah. Ketersedian pangan juga menyangkut lahan-lahan yang dikonversi oleh industri ekstraktif berbasis lahan yang menimbulkan masalah lingkungan. Produktivitas rakyat juga tergantung ketersedian pasokan energi yang ramah lingkungan dan terbarukan. Kedua pasangan Capres-Cawapres, dengan kata lain secara tidak langsung tetap melanjutkan dan memimpin perusakan lingkungan dengan caranya masing-masing dengan skala yang berbeda,” Ujar Ki Bagus Hadikusuma, Pengkampanye JATAM.(***)

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s