Darurat, Indonesia Kolaps Kecanduan Energi Fossil


JATAM,350.org,LS-ADI Melakukan Aksi bersama Global Divestment Day .(14/02/2015)
Aksi Global Divestment Day

Masyarakat sipil yang tergabung dalam gerakan Global Divestment Day di seluruh dunia pada 13 – 14 Pebruari 2015, bersama menyerukan untuk meninggalkan energi fossil. Dalam Aksi yang dilakukan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, massa aksi juga membunyikan kentongan sebagai simbol bahwa Indonesia dalam keadaan darurat bencana lingkungan dan iklim, serta menyadarkan pemerintah dan publik akan bahaya energi fossil dan penting untuk segera beralih ke energi bersih dan terbarukan.

Kecanduan dan ketergantungan energi fossil tak hanya berkontribusi terhadap kehancuran lingkungan, pelanggaran HAM, juga percepatan pemanasan global. Di beberapa Negara termasuk Indonesia, energi fossil hanya dijadikan pengeruk keuntungan dan modal kekuasaan. Ladang korupsi bagi  mafia energi yang mengorbankan keselamatan rakyat dan perusakan yang massif.

Masyarakat Sidoarjo selama Sembilan tahun terakhir juga harus hidup dalam kondisi yang tidak sehat dan tidak aman akibat semburan lumpur panas Lapindo yang diakibatkan dari aktifitas pengeboran Migas perusahaan Bakrie. Kondisi yang sama juga terjadi di Dongi Senoro LNG, Sulawesi Tengah, bagaimana masyarakat petani digusur dan diintimdasi demi eksploitasi blok Migas.

Sembilan anak yang tewas tenggelam di lubang tambang batubara di Samarinda dalam empat tahun terakhir, hanyalah salah satu potret buruk industri energi fosil (change.org/lubangtambang). Begitu juga ancaman ganguaan kesehatan dari udara dan air yang terkontaminasi limbah batubara, sangat mencolok di Kalimantan Timur.

Data dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menyebutkan bahwa saat ini industri Migas dan pertambangan sudah mengkapling 44% wilayah indonesia. Dari tujuh perusahaan tambang batubara terbesar di Indonesia, jika digabungkan luas konsesinya 465.470,87 Ha atau 80% dari luas pulau Bali.

Efek buruk dari pemanfaatan energi fosil berpengaruh langsung terhadap iklim. Eksploitasi dan penggunaan energi fosil menjadi penyumbang nomor satu emisi karbon di atmosfer. Hingga saat ini kandungan emisi karbon di atmosfer sudah mencapai 399 Ppm dari ambang batas maksimal 350 Ppm.

Tetapi di Indonesia energi fosil masih menjadi primadona, baik itu dari penggunaannya atau pun peluang ekonominya. Pemerintahaan Jokowi – JK secara terang-terangan merayu investor untuk pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW yang 60% diantaranya disuplai dari batubara. Tentu saja ini sangat ironis, mengingat batubara saat ini sudah mulai ditinggalkan di banyak Negara sebagai sumber energi, sebut saja Amerika; Jepang; China dan Norwegia. Bahkan data dari 350.org menyebutkan, tidak hanya Negara saja, tetapi ratusan institusi pendidikan, Keagamaan, yayasan hingga Pemerintahan telah menyatakan komitmennya untuk menarik investasinya dari energi fosil.

Bisnis energi kotor ini memang masih sangat menggiurkan bagi investor maupun lembaga keuangan lainnya. Tercatat kurang lebih 29 Bank Nasional dan Internasional memberikan pinjaman dan berinvestasi di industri batubara Indonesia. Tentu tidak semua masyarakat tahu diinvestasikan ke mana uang yang mereka tabung di Bank. Hal ini juga lah yang ditekankan dalam gerakan Global Divestment Day, untuk membuka mata publik bahwa uang yang selama ini mereka simpan di Bank digunakan untuk berinvestasi di sektor yang berdaya rusak tinggi.

Azami, salah satu peserta aksi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengatakan bahwa sudah saatnya masyarakat tahu uang yang selama ini mereka tabung diinvestasikan ke sektor apa. “Masyarakat seharusnya memiliki hak untuk tahu dan memilih uang mereka akan diinvestasikan di sektor apa. Tentu masyarakat tidak ingin uang yang selama ini mereka tabung diinvestasikan di industri yang merusak dan membunuh masa depan”, tambahnya.

Bjoe Kurniawan dari 350.org Indonesia menambahkan bahwa hingga saat ini potensi energi bersih dan terbarukan di Indonesia masih belum dioptimalkan. “Indonesia sebagai Negara Maritim dan tropis, memiliki banyak pilihan yang lebih ramah lingkungan sebagai sumber energi. Seharusnya ini menarik sebagai pilihan investasi berkelanjutan, memang hi cost di awal, tapi jauh lebih murah jika kita pertimbangkan juga biaya sosial dan ekologisnya”, ujarnya.

“Presiden Jokowi harus berani mengambil gebrakan baru dalam pengembangan energi bersih dan terbarukan di Indonesia. Pengembangan energi terbarukan saat ini masih mendapatkan porsi yang sangat kecil, baik dalam postur anggaran atau pun pemanfaatannya di lapangan”, ucap Ki Bagus Hadi Kusuma, pengkampanye Jaringan Advokasi Tambang. “Tentu saja hal tersebut bisa disebut hanya sekedar formalitas belaka dan “asal ada”. Pengembangan energi terbarukan hanya akan jalan di tempat jika pemerintah sendiri tidak mengambil langkah awal untuk mengurangi ketergantungannya terhadap energi fosil dan beralih ke pada energi bersih dan terbarukan”, pungkasnya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s